Sengkarut Konsumsi Pelatda PON

PENGADAAN konsumsi dalam pemusatan latihan daerah (pelatda) Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tenggara (Sultra) masih menyisakan cerita.  Mulai dari dugaan ketidaksesuaian penerimaan  uang makan hingga pengakuan sang bendahara yang diperintah petinggi KONI Sultra untuk mencairkan anggaran konsumsi bagi atlet yang pelatda di luar daerah.  Bagaimana semua itu bisa terjadi?  Berikut penelusurannya.

 

Dalam APBD 2016, KONI Sultra memperoleh dana hibah paling jumbo sebanyak Rp 11 miliar. Dari Rp 11 miliar, Rp 2.223.000.000 di antaranya dipakai untuk pengadaan makan dan minum selama pelatda PON XIX.  Angka sebanyak itu dipecah menjadi dua item. Item pertama menyangkut pengadaan kudapan (snack) sebesar Rp 468 juta dan item kedua meliputi  makan dan minum sebesar Rp 1,7 miliar.

 

Dalam sistem rencana umum pengadaan, proyek makan dan minum selama pelatda dimulai 14 Juni 2016 sampai 15 September 2016 atau 94 hari. Namun dari dokumen yang diperoleh, KONI Sultra cuma melaksanakan pelatda mulai 14 Juni sampai 14 September  2016 atau 93 hari.  Itu artinya ada selisih satu hari antara rencana umum pengadaan dengan pelaksanaan pelatda.

 

Saat  proyek makan dan minum pelatda dilelang, CV Bintang Griyatama keluar sebagai pemenang setelah  mengajukan penawaran Rp 2.209.545.000. Anggaran sebesar itu  membiayai makan dan minum bagi peserta pelatda.  Dalam dokumen tata tertib atlet pelatda, makanan disajikan sebanyak   tiga kali dan snack dua kali.  Tiga kali makan itu dihidangkan pukul  07.00, 12.30, 19.00. Sementara jadwal suguhan snack dimulai pukul 10.00 dan 16.00.

 

Pada 14 Juni 2016, KONI Sultra memulai pembukaan pelatda. Sebelum  pembukaan,  induk organisasi olahraga di Sultra ini melayangkan surat undangan 13 Juni 2016 kepada pengurus provinsi cabang olahraga yang menjadi peserta PON Jawa Barat. Dalam undangan itu, pelatih dan atlet diminta menghadiri pembukaan pelatda pada 14 Juni 2016 pukul 15.30 Wita.  Kebetulan, pembukaan pelatda bertepatan dengan sembilan hari bulan suci Ramadan 1437 Hijriah. Tercatat, ada 22 hari pelaksanaan puasa ketika pelatda digelar.

Ketika pembukaan pelatda berlangsung, atlet dan pelatih cuma disuguhi satu kali makan dan satu kali snack.  Sementara di dalam jadwal, terdapat tiga kali makan dan dua kali snack. Sehingga,  ada dua kali jatah makan dan sekali snack yang tidak diberikan kepada atlet dan pelatih dalam pembukaan pelatda.

 

Pelatih Silat Alimin mengaku  hanya mendapatkan  satu kali makan dan satu kali snack ketika pembukaan pelatda berlangsung. Selebihnya, ia tidak lagi menerima makanan pada pembukaan  pelatda  14 Juni 2016.  Di cabang olahraga silat sendiri, terdapat empat orang atlet dan dua pelatih yang menjadi peserta pelatda.   “Saya hanya sekali dapat nasi dos dan snack,” tegasnya saat ditemui 30 Mei 2017.

 

Jatah dua kali makan dan sekali snack  yang tidak ia dapatkan dalam pembukaan pelatda juga tidak ada yang dicairkan dalam bentuk uang.  “Tidak ada diberi uang. Kami juga tidak mau minta karena kami tidak tahu (kalau jatah makan itu tiga kali dan dua kali snack),” jelasnya.

 

Atlet Pencak Silat Rikki Aris Munandar mengemukakan hal yang sama.  Pelatih Takraw Heriansyah  menceritakan, saat pembukaan pelatda 14 Juni, ia  juga hanya diberikan satu kali makan dan satu kali snack. Sisanya, ia tak lagi menerima makanan apapun. Anggaran sisa jatah  makan  mereka saat pembukaan pelatda juga tidak dicairkan dalam bentuk uang. “Sampai hari ini, tidak ada kami dikasi uang. Kami juga tidak (mau) minta karena kami tidak tahu apakah (makanan) itu sudah masuk dalam anggaran pelatda atau tidak,” katanya saat ditemui 30 Mei 2017.

 

Selama pelatda berlangsung, ada beberapa cabang olahraga yang melakukan uji coba (try out) atau pindah latihan di luar daerah guna mematangkan persiapan menghadapi PON Jawa Barat. Dari penelusuran, cabang olahraga yang melaksanakan try out luar daerah adalah catur, menembak, biliar, bulu tangkis, dayung dan sepeda motor. Karena uji coba di luar daerah, maka anggaran konsumsi di antara cabang olahraga tersebut dicairkan dalam bentuk uang.

 

Pencairan uang  konsumsi tersebut “dicubit” dari anggaran pengadaan makan dan minum. Saat itu, uang tersebut diterima beberapa pelatih cabang olahraga dari Wakil Bendahara I KONI Sultra Kasman. Nah, ketika dana dicairkan, mulailah terjadi dugaan ketidaksesuaian.  Dugaan ketidaksesuaian uang makan itu diterima Pelatih Cabang Olahraga Biliar Najib Husen.

 

 

Dalam dokumen pengajuan pengalihan anggaran, Najib meminta supaya anggaran konsumsi diberikan selama 50 hari. Namun,Kasman cuma memberi uang konsumsi selama 45 hari. Sementara lima harinya sama sekali tidak ia terima. Di cabang olahraga biliar, ada dua atlet dan satu pelatih yang tercatat sebagai peserta pelatda.

 

Najib pun menceritakan bagaimana prosesnya sehingga ia diberikan uang konsumsi  selama 45 hari. Pada 24 Juni 2016, ia mengirimkan surat penyampaian perkembangan dan kebutuhan atlet ke KONI Sultra.  Dalam surat itu,  ia menjelaskan program latihan atlet biliar pada minggu kedua sudah dilaksanakan sesuai jadwal latihan. Ia pun menyampaikan keluhannya dalam surat tersebut.

Di dokumen itu, pria berkaca  mata ini menjelaskan bahwa tempat latihan atlet biliar di arena Zodox yang berada di Jalan Saosao Kota Kendari tidak maksimal. Soalnya arena itu merupakan tempat komersial  dan suara musik yang ada di Zodox sangat menganggu konsentrasi atlet saat latihan.

 

Ia juga menyampaikan bahwa meja biliar yang ada di Zodox tidak sesuai dengan meja biliar yang akan digunakan pada saat pertandingan PON Jawa Barat nanti.  Olehnya itu, atletnya yang bernama Jocsim dan Irwanto sangat mengharapkan kepada Ketua KONI Sultra supaya memfasilitasi try out  di luar Sultra. Singkat cerita, usulan mereka berangkat try out keluar daerah akhirnya disetujui.

 

Setelah itu, Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sultra kembali mengirimkan surat kebutuhan biaya try out atlet biliar pada 19 Juli 2016. Dalam surat itu, cabang olahraga biliar akan melaksanakan try out di Yogyakarta, Solo dan Makassar terhitung 21 Juli sampai 9 September 2016 atau 51 hari. Olehnya itu, Pengprov POBSI Sultra meminta pengalihan anggaran pelatda Sultra. Salah satu anggaran yang mereka minta untuk dialihkan adalah uang konsumsi. Di surat itu,POBSI Sultra meminta pengalihan uang konsumsi selama 50 hari. Hanya saja, Najib  cuma mendapatkan uang konsumsi 45 hari dari Wakil Bendahara I KONI Sultra Kasman.

 

Najib memastikan cuma mendapat 45 hari uang konsumsi. “Karena setelah saya terima uang konsumsi, saya langsung tulis (di surat kebutuhan biaya try out atlet biliar) bahwa 45 hari biaya konsumsi sudah terbayar,” jelasnya saat ditemui 22 Mei 2017. Uang konsumsi selama 45 hari itu terhitung untuk dua orang atlet dan satu pelatih.

 

Cabang olahraga catur juga keluar daerah ketika pelatda berlangsung. Pelatih Cabang Olahraga Catur M Usman mengaku atlet catur pindah latihan ke Jakarta ketika pelatda berlangsung. Ia pun bersama atletnya Andi Baladho menerima uang konsumsi  saat akan bertolak ke Ibu Kota Negara. Hanya saja, ia tidak ingat lagi berapa uang makan yang diterima dari Kasman.

 

Atlet sepeda motor Handy Prakarsa Tuahatu  yang ditemui 25 April 2017 mengaku cuma 5 hari mengikuti pelatda di dalam daerah. Setelah itu, ia mengikuti uji coba keluar daerah. Setelah uji coba keluar daerah, Handy kadang pulang lagi ke Kota Kendari.Hanya. ia tidak lagi kembali ke Minah Hotel tempat ia diinapkan ketika pelatda.

 

Terhitung  88 hari Handy tidak berada di tempat penginapan. Dan selama 88 hari itulah, ia tidak menerima uang makan dari KONI Sultra.  Bahkan saat melakukan try out keluar daerah, keperluan konsumsi ia biayai sendiri.   Anggota Satuan Tugas (Satgas) Pelatda Lasawali membenarkan kalau Handy Prakarsa Tuahatu cuma lima hari mengikuti pelatda di dalam daerah.

 

Wakil Bendahara  I KONI Sultra Kasman mengakui hanya memberi  uang konsumsi  selama 45 hari untuk

cabang olahraga biliar.  “Kenapa hanya dikasi sekian? Karena itu kebijakan. Bukan saya (yang tetapkan). Itu kebijakan Wakil Ketua Umum III Eryckson Ludji (yang membidangi keuangan). Saya kan bendahara dan tahunya membayar. Kalau ada perintah membayar, saya membayar. Terkait besarannya, itu bukan saya (yang tetapkan),” ulas  Kasman yang juga Bendahara Satgas Pelatda saat diitemui pada 7 Juni 2017.

 

Eryckson Ludji sendiri belum berkomentar terkait pernyataan Kasman.  Awak media sudah pernah mewawancarainya pada 7 Juni 2017 melalui sambungan telepon. Saat itu, Eryckson menjelaskan tentang perkenalannya dengan  Direktur Utama CV Bintang  Griyatama Erwin Riswantyo.  Ketika wartawan akan bertanya tentang perintahnya kepada Kasman, mantan Sekretaris KONI Sultra ini langsung menutup telepon.

 

Jurnalis juga sudah berusaha untuk mendapat konfirmasi Eryckson Ludji.  Bahkan pesan singkat yang dikirim pada 9 Juli 2017 untuk permintaan wawancara melalui telepon, tidak mendapat respons.  Pada 19 Juni 2017, Rakyat Sultra berkunjung ke KONI Sultra. Namun Eryckson lagi-lagi tidak berada di kantor.  “ Dia ke Jakarta,” kata salah satu staf KONI Sultra. Awak media juga sudah menghubungi yang bersangkutan melalui sambungan telepon melalui nomor telepon jurnalis yang lain. Awalnya Eryckson mau mengangkat telepon ketika dihubungi oleh jurnalis lain. Namun, ketika akan diwawancarai oleh penulis tentang konsumsi waktu pelatda, ia langsung menutup telepon.

 

Di lain pihak, Direktur Utama CV Bintang Griyatama Erwin Riswantyo menjawab tentang  adanya atlet dan pelatih yang mendapat sekali makan dan sekali snack saat pembukaan pelatda.  Menurut Erwin, jatah makan dua kali yang tidak didapatkan atlet dan pelatih saat pembukaan dikompensasi dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan.

 

Sebelum pelatda, katanya, atlet dan pelatih melakukan pemeriksaan kesehatan. “Jadi waktu pemeriksaan kesehatan di rumah sakit dan di lapangan, kami siapkan makanan. Jadi di situ dikompensasi,”  jelasnya.

 

Selain menyiapkan makanan sebelum pelatda, Erwin juga mengaku menyiapkan makanan bagi atlet dan pelatih ketika selesai pelatda. Ini dilakukan sebagai bentuk kompensasi makanan atlet. “Setelah selesai pelatda, mereka (atlet dan pelatih) kan pulang ke kampungnya masing-masing . Satu minggu kemudian, mereka datang tinggal tiga hari di Kendari. Itu dilayani lagi (makanannya) di luar dari kontrak,”  jelasnya.

 

Erwin membenarkan ada tiga kali makan dan dua kali snack dalam pelatda. Setiap kali makan, kata dia, anggarannya sebesar Rp 50 ribu. Adapun anggaran satu kali snack menurut Kasman sebesar Rp 15 ribu. Erwin  menegaskan makanan yang ia sajikan dalam pelatda sudah sesuai. Waktu penyajiannya pun juga dianggap sudah sesuai dengan kontrak. (rs)

 

Penyesalan Sang Direktur Utama

 

Rumah toko (ruko) di Jalan MT Haryono Nomor 143 itu merupakan apotek Kimia Farma. Alamat itu tercatat dalam portal Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai tempat perusahaan CV Bintang Griyatama.

Pada 2016, perusahaan ini memenangkan proyek pengadaan makan dan minum pelatda XIX di KONI Sultra. Tercatat, sebanyak Rp 2, 2 miliar anggaran makan dan minum dalam pelatda tersebut. Saat lelang, pengadaan makan dan minum pelatda diminati 12 perusahaan termasuk CV Bintang Griyatama. Tapi, dari 12 perusahaan, hanya CV Bintang Griyatama yang mengajukan penawaran. Sementara 11 perusahaan lain hanya ikut mendaftar tetapi tidak mengajukan penawaran.  Indikasi 11 perusahaan ini tidak meyodorkan penawaran terekam dalam portal LPSE Provinsi Sultra.

Proyek makan dan minum Rp 2, 2 miliar yang dimenangkan CV Bintang Griyatama digunakan untuk membiayai  kebutuhan konsumsi bagi atlet, pelatih, mekanik, dan satuan tugas (satgas) selama pelatda. Dalam Surat Keputusan Ketua Umum KONI Sultra Nomor 160 Tahun 2016 menyebutkan, jumlah atlet 69 orang, pelatih 21 orang, dan mekanik 3 orang. Sementara jumlah satgas mengalami  peningkatan. Dalam berita acara hasil verifikasi cabang olahraga menuju PON XIX di Jawa Barat Tahun 2016 yang ditetapkan pada 16 Februari 2016, jumlah satgas sebanyak 30 orang. Namun dalam SK Ketua Umum KONI Sultra Nomor 80 Tahun 2016 yang diteken 15 Maret 2016, jumlah satgas berubah menjadi 51 orang.

 

Selama pelatda berlangsung di dalam daerah, atlet, pelatih dan mekanik dinapkan di dua hotel berbeda. Cabang olahraga dayung diinapkan di Hotel Kania Kelurahan Benua-benua Kecamatan Kendari Barat, sementara 13 cabang olahraga lainnya diinapkan di Minah Hotel Kelurahan Kemaraya Kecamatan Kendari Barat.  Di dua tempat penginapan itulah perusahaan pemenang tender mengantarkan makanan.

 

Ketika perusahaan ini mengerjakan proyek tersebut, atlet pun pernah mengeluh. Hal ini terekam dalam draf surat teguran KONI Sultra kepada CV Bintang Griyatama yang dikirim pada 22 Juni 2016. Dalam draf surat teguran tersebut,  menu makanan dianggap masih di bawah standar. Selain itu, snack, buah dan susu dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan atlet.  Olehnya itu, KONI Sultra meminta kepada penyedia makanan memperhatikan hal tersebut supaya tidak terjadi lagi keluhan dari para atlet.

 

Proyek yang berhasil dimenangkan CV Bintang Griyatama bukan hanya satu. Dalam portal opendetender.net yang dibuat Indonesia Corrupption Watch (ICW), perusahaan ini sejak 2012 hingga 2016 sudah memenangkan 11 proyek. Dari 11 proyek, 10 di antaranya proyek milik Pemerintah Provinsi Sultra. Sementara satu proyek lainnya merupakan milik Pemerintah Kabupaten Konawe Utara.  Di lingkup Pemerintah Provinsi Sultra, 10 proyek yang dikerjakan CV Bintang Griyatama terdiri dari delapan pekerjaan konstruksi, satu proyek pengadaan makan dan minum atlet, dan satu pengadaan barang.

 

Dalam dokumen pendirian perusahaan, CV Bintang Griyatama didirikan dengan akta nomor 29 tertanggal 9 Februari 2011. Pendiri dalam perusahaan itu Erwin Riswantyo, Mus, dan Beppy Siahaya yang tak lain istri Erwin Riswantyo.  Di akta nomor 29 itu, Erwin Riswantyo tercatat sebagai direktur utama, Mus sebagai direktur dan Beppy Siahaya sebagai pesero komanditer atau peserta pasif.  Di dokumen itu juga menyebutkan delapan bidang usaha yang dikerjakan CV Bintang Griyatama. Delapan bidang itu adalah perdagangan umum, pembangunan, industri, jasa, percetakan, pertanian, pengangkutan, dan pertambangan. Di bidang perdagangan umum,  usaha yang dikerjakan CV Bintang Griyatama di antaranya alat komputer, network elemen, alat tulis kantor, elektrikal, komputerisasi, mekanikal, kendaraan bermotor, tekstil, makanan dan minuman.

 

Setelah didirikan 9 Februari 2011, CV Bintang Griyatama mengalami perubahan anggaran dasar perseroan komanditer dengan akta nomor 36 tertanggal 27 Februari  2012. Dalam perubahan tersebut, posisi Beppy Siahaya  sebagai pesero komanditer digantikan oleh Muhammad Basry. Di akta itu juga tercatat kalau istri Erwin Riswantyo keluar sebagai pesero di perusahaan.

 

Dalam dokumen perubahan tersebut, CV Bintang Griyatama dinyatakan berkedudukan dan berkantor di Jalan MT Haryono Nomor 143 Kota Kendari. Dari penelusuran, ada tiga ruko yang memiliki nomor 143 di Jalan MT Haryono. Ruko pertama toko Istana Listrik. Di samping toko Istana Listrik,  ada rumah toko  (ruko) yang mencantumkan nomor 143. Namun, ruko itu merupakan kantor PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS) Kendari. Perusahaan itu bergerak dalam bidang usaha pengelolaan tenaga kerja.  Kedua ruko ini berada di Kelurahan Bende Kecamatan Kadia Kota Kendari.

 

Untungnya, ada dokumen yang menyebutkan kalau Erwin pernah bermukim di Jalan MT Haryono Nomor 143 di Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu. Dan kini, ruko yang pernah ditempati Erwin itu disewa oleh Kimia Farma.

 

Meski dalam akta notaris CV Bintang Griyatama berkedudukan di Jalan MT Haryono Nomor 143 Kota Kendari, namun pengurus KONI Sultra yang pernah bertemu dengan Erwin Riswantyo tidak pernah bertandang ke alamat yang dimaksud.

 

Anggota  Satgas Pelatda PON, Lasawali mengaku tidak pernah bertemu Erwin di Jalan MT Haryono. Ia bersua dengan Direktur Utama CV Bintang Griyatama itu di rumah makannya  di Kelurahan Mokoau Kecamatan Kambu Kota Kendari.

Erwin sendiri kenal dengan Wakil Ketua III KONI Sultra Eryckson Ludji yang mengurusi  tentang keuangan. Eryckson Ludji  bahkan pernah menghadiri perayaan ulang tahun Beppy Siahaya yang juga bekas pendiri CV Bintang Griyatama.  Kehadiran  Wakil Ketua III KONI Sultra itu dalam perayaan hari ulang tahun istri Erwin Riswantyo itu terlihat dalam foto yang diunggah Eryckson Ludji  dalam akun facebook-nya pada 12 Mei 2017.

 

Eryckson mengaku kenal dengan Erwin Riswantyo. “Kalau dekat, semua orang di Kendari saya dekat,” jelasnya.  Terkait ucapan ulang tahun yang ia berikan kepada bekas pendiri CV Bintang Griyatama  juga direspons Eryckson Ludji.  “Itu terlalu pribadi. Tidak ada tugasnya wartawan ke sana,” ungkapnya melalui sambungan telepon 7 Juni 2017

 

Direktur Utama CV Bintang Griyatama Erwin Riswantyo mengatakan, bukan hanya Eryckson Ludji yang dia kenal di KONI Sultra. Beberapa pengurus lainnya juga ia kenal. “Orang di sini bukan hanya Eryckson yang kita kenal. Tasman Taewa (Wakil Ketua I KONI) kita kenal, (Plt Sekretaris KONI) Elvis Basri Uno kita kenal, pak (Ketua KONI) Lukman juga kita kenal,” katanya.

 

Meski mengenal beberapa pengurus KONI Sultra, namun Erwin memastikan tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam proyek tersebut. “Tidak ada KKN (dalam proyek) ini,” tegasnya.

 

Erwin juga menegaskan tidak ada hubungannya antara ucapan ulang tahun Beppy Siahaya dari Eryckson Ludji. “Kok dihubung-hubungkan ke situ,” jelasnya.

 

Direktur Utama CV  Bintang Griyatama ini membenarkan pernah mendapat teguran dari KONI Sultra terkait penyajian makanan saat pelatda.  Ia pun menceritakan mengapa ada keluhan sehingga keluar surat teguran tersebut. Awalnya kata dia menu makanan disusun oleh perusahaannya. Bahkan penyusunan menu tersebut  sesuai menu empat sehat lima sempurna. Saat dilayani, katanya, atlet malah protes dan meminta menu diganti.

 

“Katanya, tidak mau (menu) itu. (Atlet) mau menu daging tiap hari. Bahkan kalau perlu, satu kilo daging satu orang. Daging saja per kilogram Rp 110 ribu. (Permintaan) ini kan tidak masuk akal,” ujarnya.

 

Karena mendapat protes, ia pun mempersilakan KONI Sultra menyusun menu sendiri dan menyerahkan ke perusahaan. Saat perusahaan menyajikan makanan sesuai dengan menu yang disusun KONI, protes pun masih tetap dilakukan.

 

“Jadi bagaimana kita ini mau kerja. Kita masakkan (sesuai menu yang dibuat KONI), diprotes lagi. Makanya saya (pernah bilang) jangan protes ke kami. Kan menunya itu (yang susun) KONI sendiri,” jelasnya.

 

Erwin mengaku memenangkan proyek karena memang punya latar belakang usaha rumah makan. Orang  tuanya bahkan pernah membuka Restoran Hilman. “Jadi lucu kalau ada yang bertanya kenapa (perusahaan saya) menang. Kami ini fight. Peralatan kami lengkap. Saya punya dapur saja 20 x 5 (meter). Kami melayani kue di kantor gubernur, di DPRD , dan di Polda.  Jadi saya rasa heran (kalau ada yang bertanya) mengapa ini yang kerja. Kami ini basic-nya (usaha) rumah makan,” ungkapnya.

 

Erwin sendiri menyesal mengerjakan proyek tersebut. Ia  tidak akan mau lagi mengerjakan pengadaan makanan dalam pelatda PON.  Kecuali, perusahaannya sendiri yang membuat menu.

 

Nantinya, kata dia,  apabila KONI mengajaknya untuk mengerjakan proyek serupa, Erwin akan menolak.

 

“Saya tidak mau. Kalau saya ambil, potong saya punya leher. Setengah mati untungnya kita. Sudah untungnya tipis karena mereka tentukan menunya sendiri. Kedua, mereka mau porsinya (berlebihan). Satu orang  tapi makannya  (seperti) porsi tiga orang. Dimana untungnya lagi?,” pungkasnya.  (rs)

 

Sumber : rakyatsultra.fajar.co.id